Bertatapan dengan Waktu yang berwajah bengis disatu permulaan hari.
"Jadi kau akan mengejarku?" Tanyanya tersenyum sinis, "Aku tidak akan berhenti dan menunggumu, kau tahu?!".
"Seperti yang terjadi kemarin, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun-tahun yang lalu. Kau akan tertinggal jauh dariku sampai kau harus menangis, merengek bahkan mengiba agar aku berhenti berlari sehingga kau dapat mendekatiku dengan kaki-kaki lemahmu itu." Katanya lagi, sedingin angin laut yang memburu dicelah-celah pepohonan. Menusuk pori-pori dan menggigilkan tulang-belulang tubuhku.
"Ah sudahlah tak perlu banyak bicara, segera saja kau berlari!" Jawabku, "Kalaupun aku tak bisa menyaingi derap langkahmu aku tetap akan menguntit tepat dibalik punggungmu, hingga kau muak dan berhenti menoleh!". Sebab kali ini aku telah siap.
Jumat, 08 Januari 2010
Selasa, 22 Desember 2009
Ajari Aku Berteman
Ku pikir, aku adalah teman yang baik
Ku rasa, aku adalah teman yang menyenangkan
Aku juga teman yang pengertian
Hey, coba dengar ketika kawan ungkapkan kegalauannya tentangmu
Kau tak sebaik yang kau pikir, bukan?
Tidak cukup menyenangkan juga seperti yang kau rasakan
Pengertian?! Jangan bercanda, sebaiknya lihat diri baik-baik
Hhmm....selama ini terlalu percaya diri rupanya
Sudah tak perlu mengingat-ingat kebaikan yang kau berikan
Nyatanya lupa dengan kebaikan yang telah kau terima, masih saja merasa lebih baik dari kawanmu itu
Lupakan saja soal pengertian yang kau anggap sudah maksimal
Buktinya tidak mengerti juga saat kawanmu merasa tersisih dan tak dihargai, tidak perlu berkilah akui saja memang begitu adanya
Karena itu kawan, tolong ingatkan aku jika hati mulai menilai diri ini terlalu tinggi
Sebab aku tidak berniat menjadi teman yang sempurna bagimu, cukup menjadi seorang yang bisa menemani kala kau merasa sendiri
Bila kau tidak cukup aku mengerti, berikan saja pengertianmu padaku dan bersabarlah karena aku masih akan terus belajar untuk itu
Ajari aku terus kawan, dengan begitu kau membantuku menjadi teman yang lebih baik dimasa depan...Semoga!
Ku rasa, aku adalah teman yang menyenangkan
Aku juga teman yang pengertian
Hey, coba dengar ketika kawan ungkapkan kegalauannya tentangmu
Kau tak sebaik yang kau pikir, bukan?
Tidak cukup menyenangkan juga seperti yang kau rasakan
Pengertian?! Jangan bercanda, sebaiknya lihat diri baik-baik
Hhmm....selama ini terlalu percaya diri rupanya
Sudah tak perlu mengingat-ingat kebaikan yang kau berikan
Nyatanya lupa dengan kebaikan yang telah kau terima, masih saja merasa lebih baik dari kawanmu itu
Lupakan saja soal pengertian yang kau anggap sudah maksimal
Buktinya tidak mengerti juga saat kawanmu merasa tersisih dan tak dihargai, tidak perlu berkilah akui saja memang begitu adanya
Karena itu kawan, tolong ingatkan aku jika hati mulai menilai diri ini terlalu tinggi
Sebab aku tidak berniat menjadi teman yang sempurna bagimu, cukup menjadi seorang yang bisa menemani kala kau merasa sendiri
Bila kau tidak cukup aku mengerti, berikan saja pengertianmu padaku dan bersabarlah karena aku masih akan terus belajar untuk itu
Ajari aku terus kawan, dengan begitu kau membantuku menjadi teman yang lebih baik dimasa depan...Semoga!
Sabtu, 28 November 2009
Sebuah Pilihan
Hidup adalah pilihan, tapi aku lebih suka mengatakan selama kau hidup maka akan selalu ada kesempatan untuk memilih.
Entah berapa kali kita merasa terpaksa harus memilih sesuatu yang tidak diinginkan karena alasan tidak ada pilihan lain, benarkah?
Mungkin ya, atau itu terjadi hanya karena aku tidak menyadari kalau punya kesempatan membuat pilihan lain, atau juga malah aku yang terlalu pengecut untuk memilihnya.
Sebagian orang menuntut dirinya bahkan orang lain untuk bisa membuat pilihan yang benar.
Tapi bagaimana mungkin aku bisa melihat pilihan itu benar ketika kesalahan yang menjadi ukuran benar itu sendiri selalu dihindari.
Bukankah berkaca pada kesalahan justru membuat kita selangkah lebih dekat dengan kebenaran.
Bagiku pilihan itu bagai dua sisi mata uang, ketika kau mengambil satu sisinya maka sisi lainnya suka atau tidak harus kau miliki.
Karena setiap pilihan yang tepat sekalipun akan diiringi dengan tanggung jawab untuk menjalaninya.
Pilihlah dengan keyakinan karena menghindarinya akan membuatmu seperti berlari mengelilingi sebuah lapangan yang membawamu kembali keposisi semula.
Sekarang, sudahkah kau menjatuhkan pilihan?
Entah berapa kali kita merasa terpaksa harus memilih sesuatu yang tidak diinginkan karena alasan tidak ada pilihan lain, benarkah?
Mungkin ya, atau itu terjadi hanya karena aku tidak menyadari kalau punya kesempatan membuat pilihan lain, atau juga malah aku yang terlalu pengecut untuk memilihnya.
Sebagian orang menuntut dirinya bahkan orang lain untuk bisa membuat pilihan yang benar.
Tapi bagaimana mungkin aku bisa melihat pilihan itu benar ketika kesalahan yang menjadi ukuran benar itu sendiri selalu dihindari.
Bukankah berkaca pada kesalahan justru membuat kita selangkah lebih dekat dengan kebenaran.
Bagiku pilihan itu bagai dua sisi mata uang, ketika kau mengambil satu sisinya maka sisi lainnya suka atau tidak harus kau miliki.
Karena setiap pilihan yang tepat sekalipun akan diiringi dengan tanggung jawab untuk menjalaninya.
Pilihlah dengan keyakinan karena menghindarinya akan membuatmu seperti berlari mengelilingi sebuah lapangan yang membawamu kembali keposisi semula.
Sekarang, sudahkah kau menjatuhkan pilihan?
Kamis, 19 November 2009
Bicara Tentang Cinta
Mari duduk sebentar bersamaku dan kita bicara tentang cinta
Sebuah kata yang bisa mempengaruhi hidupku dan juga hidupmu
Kata yang telah menjadi awal sebuah kisah
Entah berjalan mudah atau membuat gundah
Menjadi akhir suatu penantian berjuta harap
Terhadap bahagia yang bagai mimpi
Akankah cinta menjadi alasan untuk mengekang
Dan cemburu membutakan hati berbuah benci?
Haruskah cinta menjadikan pengorbanan diri sebagai pembuktiannya?
Aku rasa itu bukan bentuk cinta…
Cinta adalah tulus hati
Kasih dan sayang adalah saudara yang tak terpisahkan
Maka sejatinya cinta tak perlu kata untuk mendefinisi
Sebab hati tak pernah mengatakan tapi merasakan
Jadi, dengarkan cinta dengan hati jangan dengan telinga
Karena cinta tak ada di sana...
Sebuah kata yang bisa mempengaruhi hidupku dan juga hidupmu
Kata yang telah menjadi awal sebuah kisah
Entah berjalan mudah atau membuat gundah
Menjadi akhir suatu penantian berjuta harap
Terhadap bahagia yang bagai mimpi
Akankah cinta menjadi alasan untuk mengekang
Dan cemburu membutakan hati berbuah benci?
Haruskah cinta menjadikan pengorbanan diri sebagai pembuktiannya?
Aku rasa itu bukan bentuk cinta…
Cinta adalah tulus hati
Kasih dan sayang adalah saudara yang tak terpisahkan
Maka sejatinya cinta tak perlu kata untuk mendefinisi
Sebab hati tak pernah mengatakan tapi merasakan
Jadi, dengarkan cinta dengan hati jangan dengan telinga
Karena cinta tak ada di sana...
Minggu, 15 November 2009
Karena Ku Terlalu Angkuh
Apa yang tersisa dari keangkuhan? Kehancuran!
Kalau memang begitu, mengapa masih dibiarkan rasa itu bercokol dengan tenang dihati?
Tak bisa kujawab tanya itu karena angkuhku tak membiarkan aku mengakuinya
Berapa banyak keangkuhan telah memakan korban jiwa...ya, jiwa yang terluka karenanya
Betapa sering nurani terkalahkan oleh keangkuhan yang semakin tak menyisakan ampunan
Manusiakah bila hati telah berubah menjadi karang yang tak bergeming oleh hempasan tangis dan rintihan
Manusiakah ketika pikiran dipenuhi nafsu pembalasan yang tak berkesudahan, mengoyak belas kasih yang murni hanya demi pengakuan atas kekuasaan
Mudahnya terlupa dengan segala keinginan yang telah tercapai
Mudahnya tidak teringat oleh segala kemauan yang sudah terpenuhi
Mudahnya alpa mensyukuri semua doa yang telah dikabulkan-Nya
Tak pernah disadari yang sudah terluka adalah yang paling dikasihi
Tak mampu mengakui bahwa kenyataan akan rapuhnya diri adalah yang sebenarnya dihindari
Tak bisa dipungkiri kesunyian yang akhirnya hadir adalah teman setia
Adakah kau tahu batas akhir dari angkuhmu? Tidak akan pernah!
Berhentilah cukup sampai disini, sebelum kau tersesat dan tenggelam dalam keremangan penyesalan
Berhentilah sekarang selagi nurani masih bisa menemukanmu dan menjemputmu kembali
Kalau memang begitu, mengapa masih dibiarkan rasa itu bercokol dengan tenang dihati?
Tak bisa kujawab tanya itu karena angkuhku tak membiarkan aku mengakuinya
Berapa banyak keangkuhan telah memakan korban jiwa...ya, jiwa yang terluka karenanya
Betapa sering nurani terkalahkan oleh keangkuhan yang semakin tak menyisakan ampunan
Manusiakah bila hati telah berubah menjadi karang yang tak bergeming oleh hempasan tangis dan rintihan
Manusiakah ketika pikiran dipenuhi nafsu pembalasan yang tak berkesudahan, mengoyak belas kasih yang murni hanya demi pengakuan atas kekuasaan
Mudahnya terlupa dengan segala keinginan yang telah tercapai
Mudahnya tidak teringat oleh segala kemauan yang sudah terpenuhi
Mudahnya alpa mensyukuri semua doa yang telah dikabulkan-Nya
Tak pernah disadari yang sudah terluka adalah yang paling dikasihi
Tak mampu mengakui bahwa kenyataan akan rapuhnya diri adalah yang sebenarnya dihindari
Tak bisa dipungkiri kesunyian yang akhirnya hadir adalah teman setia
Adakah kau tahu batas akhir dari angkuhmu? Tidak akan pernah!
Berhentilah cukup sampai disini, sebelum kau tersesat dan tenggelam dalam keremangan penyesalan
Berhentilah sekarang selagi nurani masih bisa menemukanmu dan menjemputmu kembali
Jumat, 06 November 2009
Setialah Tanpa Syarat
Suatu saat nurani berkata, "Setialah kepadaku..."
Jawabku, "Aku setia padamu dengan syarat dan ketentuan berlaku."
Karena...
Setiaku bersyarat dengan mendapatkan segala kemudahan untuk memiliki yang ku inginkan
Setiaku berarti memperoleh balasan yang setimpal atas apa yang telah aku korbankan
Setiaku berselera tinggi hanya mau diberikan kepada yang mampu menguasai segalanya
Setiaku tidak menetap berpindah dari satu hati ke hati yang lain
Setiaku terbatas pada keadaan yang menguntungkan
Setiaku berlaku sampai dengan tak ada lagi yang bisa kuminta
atau aku temukan pengganti yang lebih menjanjikan untuk hal-hal tersebut diatas
Nuraniku yang malang, terdiam dan kecewa
Kesetianku seperti awan putih yang menggumpal, tak kuasa untuk digenggam
Berarak oleh hembusan angin yang tak terarah dan menjadi kelam seketika
Jangan khawatir nurani, aku akan belajar memaknai kesetiaanku dengan ketulusan,
mengisinya dengan kejujuran dan membungkusnya dengan kepercayaan
Jika suatu ketika kau berkata kembali, "Setialah kepadaku..."
Maka aku akan mantap menjawab, "Aku telah setia kepadamu Nurani, tanpa syarat."
Dan aku sudah buktikkan itu.
Jawabku, "Aku setia padamu dengan syarat dan ketentuan berlaku."
Karena...
Setiaku bersyarat dengan mendapatkan segala kemudahan untuk memiliki yang ku inginkan
Setiaku berarti memperoleh balasan yang setimpal atas apa yang telah aku korbankan
Setiaku berselera tinggi hanya mau diberikan kepada yang mampu menguasai segalanya
Setiaku tidak menetap berpindah dari satu hati ke hati yang lain
Setiaku terbatas pada keadaan yang menguntungkan
Setiaku berlaku sampai dengan tak ada lagi yang bisa kuminta
atau aku temukan pengganti yang lebih menjanjikan untuk hal-hal tersebut diatas
Nuraniku yang malang, terdiam dan kecewa
Kesetianku seperti awan putih yang menggumpal, tak kuasa untuk digenggam
Berarak oleh hembusan angin yang tak terarah dan menjadi kelam seketika
Jangan khawatir nurani, aku akan belajar memaknai kesetiaanku dengan ketulusan,
mengisinya dengan kejujuran dan membungkusnya dengan kepercayaan
Jika suatu ketika kau berkata kembali, "Setialah kepadaku..."
Maka aku akan mantap menjawab, "Aku telah setia kepadamu Nurani, tanpa syarat."
Dan aku sudah buktikkan itu.
Kamis, 05 November 2009
Telah Berhasil Jujur
Dengan rendah hati aku umumkan keberhasilanku akan kejujuran
Berhasil jujur membenarkan betapa lemah dan rapuhnya aku
Berhasil jujur membenarkan kalau hatiku telah mendua dan tak setia
Berhasil jujur membenarkan malu berkubang dalam dosa
Berhasil jujur membenarkan telah mengkhianati kepercayaan
Berhasil jujur membenarkan aku pandai berdusta
Berhasil jujur membenarkan takut akan siksa-Nya tetapi seringkali berpaling dari-Nya
Berhasil jujur membenarkan telah membiarkan keangkuhan melampaui kemampuan
Berhasil jujur membenarkan aku tidak lebih dari ahli putus asa yang tak sabar untuk terus meminta
Tapi semua pembenaran itu tidak cukup mampu menggerakkan roda perubahan bernama "aku menjadi lebih baik" yang melaju lambat
Jadi bagaimana dengan berhasil jujur mengakui kesalahan, berpihak hanya kepada yang benar dan berani menolak kemunafikan?
Walaupun sepertinya aku harus menghitung ulang prosentase keberhasilannya, setidaknya aku sudah berhasil jujur pada diri sendiri.
Berhasil jujur membenarkan betapa lemah dan rapuhnya aku
Berhasil jujur membenarkan kalau hatiku telah mendua dan tak setia
Berhasil jujur membenarkan malu berkubang dalam dosa
Berhasil jujur membenarkan telah mengkhianati kepercayaan
Berhasil jujur membenarkan aku pandai berdusta
Berhasil jujur membenarkan takut akan siksa-Nya tetapi seringkali berpaling dari-Nya
Berhasil jujur membenarkan telah membiarkan keangkuhan melampaui kemampuan
Berhasil jujur membenarkan aku tidak lebih dari ahli putus asa yang tak sabar untuk terus meminta
Tapi semua pembenaran itu tidak cukup mampu menggerakkan roda perubahan bernama "aku menjadi lebih baik" yang melaju lambat
Jadi bagaimana dengan berhasil jujur mengakui kesalahan, berpihak hanya kepada yang benar dan berani menolak kemunafikan?
Walaupun sepertinya aku harus menghitung ulang prosentase keberhasilannya, setidaknya aku sudah berhasil jujur pada diri sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)