Jadi sombong itu seperti tidak ada ujungnya...
Bahkan disaat tidak merasa sombong sekalipun sebenarnya kita sedang sombong
Ketika dengan bijaknya memberikan kata-kata yang bermanfaat bisa saja kita sedang sombong
Atau dikala kita berucap merendah dihadapan orang sangat mungkin kita sedang sombong
Masalahnya sombong itu perkara hati
Dan tidak ada yang mampu menakarnya kecuali Dia
Tampilkan postingan dengan label hati dan pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hati dan pikiran. Tampilkan semua postingan
Senin, 03 Februari 2014
Selasa, 24 Juli 2012
Koreksi Diri...
Dan ketika apa yang sudah kau lakukan ...dilupakan!
Ya, sudah biarkan saja...
Kau adalah apa yang kau pilih sekarang bagi hidupmu bukan dari mana kau berasal
Menjadi baik atau tidak itu juga pilihan bukan reaksi dari perlakuan orang-orang sekitar
Silahkan saja sibuk menyalahkan orang lain, keadaan atau masa lalu atas apapun yang menurutmu tidak sesuai keinginan
Tapi pada kenyataannya, kau hanya menunjukan kualitas dirimu sendiri yang sebenarnya....
Pecundang tidak akan pernah bisa memenangkan pertarungan
Ia hanya bisa menghancurkan lawan tanpa mendapatkan kehormatan
Ya, sudah biarkan saja...
Kau adalah apa yang kau pilih sekarang bagi hidupmu bukan dari mana kau berasal
Menjadi baik atau tidak itu juga pilihan bukan reaksi dari perlakuan orang-orang sekitar
Silahkan saja sibuk menyalahkan orang lain, keadaan atau masa lalu atas apapun yang menurutmu tidak sesuai keinginan
Tapi pada kenyataannya, kau hanya menunjukan kualitas dirimu sendiri yang sebenarnya....
Pecundang tidak akan pernah bisa memenangkan pertarungan
Ia hanya bisa menghancurkan lawan tanpa mendapatkan kehormatan
Senin, 07 November 2011
Aku, Hidup dan Pilihan
Hidup yang tenang....begitulah kira-kira sebagian yang lain menilai
Betapa menyenangkan....sebagian lain ikut-ikutan memberikan pandangan
Hidup siapa? Aku...
Ah, kalau saja mereka tahu apa saja yang aku lepaskan
Apakah tetap akan seperti itu yang merekai nilai?
Atau seandainya saja mereka menghitung apa saja yang aku dapatkan sabagai pertukaran
Apakah masih bisa mereka bilang menyenangkan?
Sangat mungkin mereka menilaiku bodoh, sinting, aneh....
Dan sepertinya kata-kata itu belum seberapa untuk menggambarkan semuanya
Sudahlah, aku memang biasa berbeda dari pemikiran orang kebanyakan
Aku bercerita dari sudut pandang yang berbeda, dan mereka sendiri yang menilai berlebihan
Hidupku sama tidak sempurnanya dengan mereka, yang berbeda ketika aku berbahagia dengan apa yang aku punya
Aku hanya menyederhanakan hidupku yang memang tidak perlu serumit itu
Mereka hanya perlu tahu, aku baik-baik saja dengan pilihanku
Aku sedang tidak berpura-pura, bahkan untuk menyenangkan diriku sendiri
Untuk apa? Jika betul itu yang aku rasakan
Belajar mengasingkan keluhan, hingga mulai terasa tak wajar ketika diucapkan
Aku serius dengan pilihanku, jangan dikira aku tak paham betul resikonya
Walau mereka bilang hidupku yang santai, mengalir riang bagai anak sungai
Hei, jangna lupa sungai ini menuju kelautan dalam yang ombaknya menggulung ganas
Jadi apakah mereka pikir aku akan pasrah begitu saja menyerahkan kepada angin kemana akan membawa?
Ya, aku mungkin saja akan terluka, terkoyak, terhempas, terdampar...
Atau aku akan merubah jalur dan jalan memutar hingga kelelahan
Tapi tidak untuk lari karena takut hadapi kehidupan!
Betapa menyenangkan....sebagian lain ikut-ikutan memberikan pandangan
Hidup siapa? Aku...
Ah, kalau saja mereka tahu apa saja yang aku lepaskan
Apakah tetap akan seperti itu yang merekai nilai?
Atau seandainya saja mereka menghitung apa saja yang aku dapatkan sabagai pertukaran
Apakah masih bisa mereka bilang menyenangkan?
Sangat mungkin mereka menilaiku bodoh, sinting, aneh....
Dan sepertinya kata-kata itu belum seberapa untuk menggambarkan semuanya
Sudahlah, aku memang biasa berbeda dari pemikiran orang kebanyakan
Aku bercerita dari sudut pandang yang berbeda, dan mereka sendiri yang menilai berlebihan
Hidupku sama tidak sempurnanya dengan mereka, yang berbeda ketika aku berbahagia dengan apa yang aku punya
Aku hanya menyederhanakan hidupku yang memang tidak perlu serumit itu
Mereka hanya perlu tahu, aku baik-baik saja dengan pilihanku
Aku sedang tidak berpura-pura, bahkan untuk menyenangkan diriku sendiri
Untuk apa? Jika betul itu yang aku rasakan
Belajar mengasingkan keluhan, hingga mulai terasa tak wajar ketika diucapkan
Aku serius dengan pilihanku, jangan dikira aku tak paham betul resikonya
Walau mereka bilang hidupku yang santai, mengalir riang bagai anak sungai
Hei, jangna lupa sungai ini menuju kelautan dalam yang ombaknya menggulung ganas
Jadi apakah mereka pikir aku akan pasrah begitu saja menyerahkan kepada angin kemana akan membawa?
Ya, aku mungkin saja akan terluka, terkoyak, terhempas, terdampar...
Atau aku akan merubah jalur dan jalan memutar hingga kelelahan
Tapi tidak untuk lari karena takut hadapi kehidupan!
Sabtu, 01 Oktober 2011
Hadiah Untukku
Hari yang tepat untuk memulai sesuatu yang baru
Waktu yang tepat untuk menantang diri
Ketika kerabat dan handai taulan memberikan selamat serta mendoakan umur yang panjang
Aku memberi selamat pada diriku sendiri dengan menghadiahkan kesempatan...
Kesempatan untuk menemukan kembali keberanian sebelum terlanjur terkubur terlalu dalam
Sebelum pikiran dipenuhi terlalu banyak pertanyaan tanpa jawaban
Sebelum tubuh terlalu cepat kelelahan
Dan sebelum semuanya berhenti tanpa sempat lakukan apa-apa
Waktu yang tepat untuk menantang diri
Ketika kerabat dan handai taulan memberikan selamat serta mendoakan umur yang panjang
Aku memberi selamat pada diriku sendiri dengan menghadiahkan kesempatan...
Kesempatan untuk menemukan kembali keberanian sebelum terlanjur terkubur terlalu dalam
Sebelum pikiran dipenuhi terlalu banyak pertanyaan tanpa jawaban
Sebelum tubuh terlalu cepat kelelahan
Dan sebelum semuanya berhenti tanpa sempat lakukan apa-apa
Jumat, 22 Juli 2011
Beralih dan Tak Percaya
Adakah percaya padamu masih mampu menghalau nafas kebencian?
Sengaja mungkin memang kau biarkan agar jadi sedikit hiburan
Nafas-nafas panas yang semakin cepat menghela dan menghembus, berulang-ulang
Kemudian memenuhi setiap ruang-ruang hati yang dahulu begitu lapang menjadi sempit, menjemukan
Sudah puaskah kau tertawa?
Karena nafas kebencian sudah mengambil alih paru-paru dan melelahkan
Ruang hati yang sesak, mengusir keluar ketenangan, perlahan namun tak tertahan
Akan kau apakan ketika tak ada lagi ketenangan, keramahan, perkawanan?
Bersenang-senang tidak semudah itu mengembalikan kebaikan
Rasa sudah membisu, menolak untuk sekedar mengaduh
Cukupkah tenagamu memecah kepala-kepala yang membatu hanya dengan setengah kepalan tanganmu?
Sedang setengah lagi dibiarkan terbuka enggan kau katup
Apa yang kau rencanakan?
Lihat nanti sampai permainan tidak lagi kau menangkan
Langkah-langkah yang terjebak, mundur untuk mengelak, satu dua tiga hitungan lantas mati
Kau akan tertinggal dan tersadar, kau tidak pernah jadi pemilik kantung nasib
Bagi nasibku, nasib mereka, bahkan nasibmu sendiri...
Sengaja mungkin memang kau biarkan agar jadi sedikit hiburan
Nafas-nafas panas yang semakin cepat menghela dan menghembus, berulang-ulang
Kemudian memenuhi setiap ruang-ruang hati yang dahulu begitu lapang menjadi sempit, menjemukan
Sudah puaskah kau tertawa?
Karena nafas kebencian sudah mengambil alih paru-paru dan melelahkan
Ruang hati yang sesak, mengusir keluar ketenangan, perlahan namun tak tertahan
Akan kau apakan ketika tak ada lagi ketenangan, keramahan, perkawanan?
Bersenang-senang tidak semudah itu mengembalikan kebaikan
Rasa sudah membisu, menolak untuk sekedar mengaduh
Cukupkah tenagamu memecah kepala-kepala yang membatu hanya dengan setengah kepalan tanganmu?
Sedang setengah lagi dibiarkan terbuka enggan kau katup
Apa yang kau rencanakan?
Lihat nanti sampai permainan tidak lagi kau menangkan
Langkah-langkah yang terjebak, mundur untuk mengelak, satu dua tiga hitungan lantas mati
Kau akan tertinggal dan tersadar, kau tidak pernah jadi pemilik kantung nasib
Bagi nasibku, nasib mereka, bahkan nasibmu sendiri...
Jumat, 08 Juli 2011
Menahan...
Seharusnya ku maki saja sampai terkuras habis amarah
Tapi aku memilih diam....
Atau ku namai dengan kata-kata hina yang sepertinya lebih layak disematkan
Tapi sekuat tenaga aku membungkam...
Juga lebih baik rasanya jika ku layangkan kepalan tangan membabi-buta
Tapi berkilahpun aku tidak...
Pengecut!
Bukan...aku hanya belajar BERSABAR
Tapi aku memilih diam....
Atau ku namai dengan kata-kata hina yang sepertinya lebih layak disematkan
Tapi sekuat tenaga aku membungkam...
Juga lebih baik rasanya jika ku layangkan kepalan tangan membabi-buta
Tapi berkilahpun aku tidak...
Pengecut!
Bukan...aku hanya belajar BERSABAR
Senin, 23 Mei 2011
Masih Harus Bersabar
Nurani....
Aku telah dikerdilkan oleh nafsu
Nafsu yang telah membuatku terlalu mencemaskan hidup
Aku yang membesarkan rasa takut tanpa kendali
Kemudian ia mulai menggelepar liar dan menerkam keberanian
Beraniku hilang tertelan tak mampu kuselamatkan
Oh Nurani....
Masih mampukah aku bebaskan hati ini dari jeratan benci
Galau yang menggelantung dan menghisap kepastian
Aku tertawa tanpa tahu apa itu bahagia
Menangis tapi tak juga melepaskan lara
Hidupku diatur oleh waktu yang tidak ku miliki
Bahkan menjadi gila masih terlalu sulit untuk dilakukan
Sudah saatnyakah aku menyerah?
Katakan Nurani, dititik manakah aku berhak untuk lelah
Sampaikan padaku Nurani, jika usahaku sudah harus berhenti
Tapi kenapa kau tetap diam dan hanya mengirimkan pesan
Kalau aku belum diijinkan untuk singgah walau sebentar dan bermimpi masih tetap diperbolehkan
Hingga nanti, entah kapan...
Langkahku akan terhenti sendiri
Dan segalanya telah usai aku tunaikan
Tapi itu nanti pesannya...dan entah kapan....
Aku telah dikerdilkan oleh nafsu
Nafsu yang telah membuatku terlalu mencemaskan hidup
Aku yang membesarkan rasa takut tanpa kendali
Kemudian ia mulai menggelepar liar dan menerkam keberanian
Beraniku hilang tertelan tak mampu kuselamatkan
Oh Nurani....
Masih mampukah aku bebaskan hati ini dari jeratan benci
Galau yang menggelantung dan menghisap kepastian
Aku tertawa tanpa tahu apa itu bahagia
Menangis tapi tak juga melepaskan lara
Hidupku diatur oleh waktu yang tidak ku miliki
Bahkan menjadi gila masih terlalu sulit untuk dilakukan
Sudah saatnyakah aku menyerah?
Katakan Nurani, dititik manakah aku berhak untuk lelah
Sampaikan padaku Nurani, jika usahaku sudah harus berhenti
Tapi kenapa kau tetap diam dan hanya mengirimkan pesan
Kalau aku belum diijinkan untuk singgah walau sebentar dan bermimpi masih tetap diperbolehkan
Hingga nanti, entah kapan...
Langkahku akan terhenti sendiri
Dan segalanya telah usai aku tunaikan
Tapi itu nanti pesannya...dan entah kapan....
Selasa, 22 Maret 2011
Pergi dan Menjauh....
Percaya, aku berusaha untuk itu bahkan melihat dirimu dari sisi terbaik yang aku bisa
Tapi, rasanya hal itu menjadi semakin sulit kulakukan
Entah, apa karena aku menaruh penilaian begitu tinggi terhadapmu atau memang tidak dapat kutemukan sesuatu yang bernilai disana
Peduli, sudah tidak lagi. Katakan saja aku kejam tak berperasaan tapi maaf aku tidak pandai berpura-pura untuk hal yang tidak aku suka
Baik, aku yakin kau masih miliki itu. Walaupun sisi lainmu mempengaruhi cara pandangku terhadapmu
Sudah, jangan paksakan apapun hanya agar salah satu dari kita terlihat menyenangkan bagi yang lainnya
Untuk semua itu aku masih menghormatimu dengan caraku
Tidak peduli apakah itu cukup bagimu
Dan kita akan baik-baik saja tanpa kedekatan semu
Semoga kau tahu jalan yang tepat untuk dirimu karena aku tidak akan berada diantaranya
Tapi, rasanya hal itu menjadi semakin sulit kulakukan
Entah, apa karena aku menaruh penilaian begitu tinggi terhadapmu atau memang tidak dapat kutemukan sesuatu yang bernilai disana
Peduli, sudah tidak lagi. Katakan saja aku kejam tak berperasaan tapi maaf aku tidak pandai berpura-pura untuk hal yang tidak aku suka
Baik, aku yakin kau masih miliki itu. Walaupun sisi lainmu mempengaruhi cara pandangku terhadapmu
Sudah, jangan paksakan apapun hanya agar salah satu dari kita terlihat menyenangkan bagi yang lainnya
Untuk semua itu aku masih menghormatimu dengan caraku
Tidak peduli apakah itu cukup bagimu
Dan kita akan baik-baik saja tanpa kedekatan semu
Semoga kau tahu jalan yang tepat untuk dirimu karena aku tidak akan berada diantaranya
Sabtu, 05 Februari 2011
Hhuuhh....
Mungkin...ya mungkin saja aku hanya ingin diam dan dimengerti
Karena aku tidak suka membicarakan hati, terlalu abstrak, labil dan rapuh
Aku selalu pengecut soal perasaan
Barangkali aku sedang menjadi setengah manusia
Bermain-main dengan rasa dan menimang-nimang logika
Berusaha mengabaikan nafsu, tapi justru ia yang pada akhirnya mengambil alih kekuasaan
Atau aku hanya sedang ingin egois saja
Melakukan semua yang aku mau, persetan dengan maumu
Meletakkan kebenaran sesuai dengan pikirku dan mengelak dari bukti kesalahan yang menudingku
Sepertinya aku sedang berusaha melarikan diri dari kehidupan
Ingin membuang jauh-jauh tanggung jawab dan mengkambing hitamkan kebebasan
Berikan saja aku sayap, segera saja akan kutinggalkan bumi dan berdiam dalam mimpi
Bagaimana caranya mengistirahatkan hati yang bekerja tanpa balasan
Mengakrabkan pikiran yang mulai sering bertengkar dan mengamankan nafsu sebelum bertindak kriminal
Tapi aku sedang lelah...dengan semuanya
Karena aku tidak suka membicarakan hati, terlalu abstrak, labil dan rapuh
Aku selalu pengecut soal perasaan
Barangkali aku sedang menjadi setengah manusia
Bermain-main dengan rasa dan menimang-nimang logika
Berusaha mengabaikan nafsu, tapi justru ia yang pada akhirnya mengambil alih kekuasaan
Atau aku hanya sedang ingin egois saja
Melakukan semua yang aku mau, persetan dengan maumu
Meletakkan kebenaran sesuai dengan pikirku dan mengelak dari bukti kesalahan yang menudingku
Sepertinya aku sedang berusaha melarikan diri dari kehidupan
Ingin membuang jauh-jauh tanggung jawab dan mengkambing hitamkan kebebasan
Berikan saja aku sayap, segera saja akan kutinggalkan bumi dan berdiam dalam mimpi
Bagaimana caranya mengistirahatkan hati yang bekerja tanpa balasan
Mengakrabkan pikiran yang mulai sering bertengkar dan mengamankan nafsu sebelum bertindak kriminal
Tapi aku sedang lelah...dengan semuanya
Rabu, 15 Desember 2010
Berkaca Diri
Aku tak suka menoleh kebelakang sebenarnya
Tapi kali ini harus aku lakukan sebelum tahun ini usai dan beranjak pergi
Mencoba menilai ulang guratan-guratan masa kemarin yang telah dihabiskan
Melihat dengan rasa yang berbeda dari ketika masih berada disana
WAKTU yang tersia-sia
HARAPAN yang tidak lagi melambungkan jiwa
CINTA yang semakin tersudut dan hampir terlupa
PERSAHABATAN yang terurai, bertabrakan, mencari dan menghilang
AMARAH yang aku kobarkan dan membakar tanpa tanya
DIAMKU yang justru memicu kericuhan
KESABARAN yang tertakar dan sulit ku isi ulang
SEMANGAT yang tiba-tiba roboh tanpa perlawanan
Apa yang aku dapat?
Hanya membekas, menggumpal menjadi DENDAM
KEBAIKAN mana yang berani ku AKUI?
Jika KEBURUKAN yang LEBIH BESAR aku SEMBUNYIKAN
Ah, Nurani sungguh aku MALU
Kepada dunia karena berlaku SOMBONG
Bagaimana mungkin aku menaruh HARGA DIRI begitu tinggi
Padahal aku TIDAK MENGHARGAI semua yang tersedia bagi diri ini
Merasa memiliki hidup sehingga pantas berbuat sekehendak hati
Lalu bersikap seolah-olah tidak akan ada yang meminta pertanggung jawaban
Aku lengah Nurani
Lemah terhadap keinginan yang membabi buta
Lupa menyadari keinginan itu mampu MELUKAI
Dan waktu terlalu penat untuk bisa menyembuhkannya
Duh, Nurani maukah kau ulurkan kembali tanganmu untukku
Menuntun hati-hati langkah ini agar tak berulah menceritakan kesalahan yang sama
Tapi kali ini harus aku lakukan sebelum tahun ini usai dan beranjak pergi
Mencoba menilai ulang guratan-guratan masa kemarin yang telah dihabiskan
Melihat dengan rasa yang berbeda dari ketika masih berada disana
WAKTU yang tersia-sia
HARAPAN yang tidak lagi melambungkan jiwa
CINTA yang semakin tersudut dan hampir terlupa
PERSAHABATAN yang terurai, bertabrakan, mencari dan menghilang
AMARAH yang aku kobarkan dan membakar tanpa tanya
DIAMKU yang justru memicu kericuhan
KESABARAN yang tertakar dan sulit ku isi ulang
SEMANGAT yang tiba-tiba roboh tanpa perlawanan
Apa yang aku dapat?
Hanya membekas, menggumpal menjadi DENDAM
KEBAIKAN mana yang berani ku AKUI?
Jika KEBURUKAN yang LEBIH BESAR aku SEMBUNYIKAN
Ah, Nurani sungguh aku MALU
Kepada dunia karena berlaku SOMBONG
Bagaimana mungkin aku menaruh HARGA DIRI begitu tinggi
Padahal aku TIDAK MENGHARGAI semua yang tersedia bagi diri ini
Merasa memiliki hidup sehingga pantas berbuat sekehendak hati
Lalu bersikap seolah-olah tidak akan ada yang meminta pertanggung jawaban
Aku lengah Nurani
Lemah terhadap keinginan yang membabi buta
Lupa menyadari keinginan itu mampu MELUKAI
Dan waktu terlalu penat untuk bisa menyembuhkannya
Duh, Nurani maukah kau ulurkan kembali tanganmu untukku
Menuntun hati-hati langkah ini agar tak berulah menceritakan kesalahan yang sama
Selasa, 16 November 2010
Lelaki Mulia
Salam untukmu lelaki berhati lembut
Engkau menyadarkanku selama ini tak pernah benar-benar mengenalmu
Aku yang selalu mengaku percaya padamu
Tapi juga tidak mengindahkan apapun tentangmu
Aku malu...
Merasa menjadi orang yang baik malah membuatku sombong
Mengangkat tinggi wajahku untuk sebuah harga diri
Tapi aku tidak menghargai dengan benar diriku sendiri
Salam untukmu lelaki penuh cinta
Buat aku mengerti kasih sayang seperti yang kau miliki
Bentangan jarak waktu padamu
Memudahkanku untuk melupakanmu
Kali ini aku rindu
Padamu lelaki penggenggam hujan*
*(Tasaro GK)
Engkau menyadarkanku selama ini tak pernah benar-benar mengenalmu
Aku yang selalu mengaku percaya padamu
Tapi juga tidak mengindahkan apapun tentangmu
Aku malu...
Merasa menjadi orang yang baik malah membuatku sombong
Mengangkat tinggi wajahku untuk sebuah harga diri
Tapi aku tidak menghargai dengan benar diriku sendiri
Salam untukmu lelaki penuh cinta
Buat aku mengerti kasih sayang seperti yang kau miliki
Bentangan jarak waktu padamu
Memudahkanku untuk melupakanmu
Kali ini aku rindu
Padamu lelaki penggenggam hujan*
*(Tasaro GK)
Jumat, 17 September 2010
Memilih
Ini pilihanku dan memang tidak harus jadi pilihanmu
Bagiku ini yang terbaik walau bisa jadi tidak untukmu
Jangan mencoba mengerti jika kau memulainya dengan setengah hati
Karena ini hidupku dan bukan hidupmu maka berhenti memahamiku dari sudut pandangmu
Katakan saja apapun tentangku semaumu
Entah itu nyata atau rekaanmu semata
Dengan lantang atau sekedar desahan yang hanya terdengar ditelingamu
Tenang saja, aku tidak perlu lakukan hal yang sama
Katamu aku dendam! Kataku tidak ada masalah padamu
Sebab kita memang berbeda maka aku tidak perlu memaksamu menjadi sepertiku
Atau apapun itu yang menurutku pantas untukmu
Santai sajalah, silahkan jalani bagianmu tidak usah ragu karena aku tidak akan menghalangi langkahmu
Bagiku ini yang terbaik walau bisa jadi tidak untukmu
Jangan mencoba mengerti jika kau memulainya dengan setengah hati
Karena ini hidupku dan bukan hidupmu maka berhenti memahamiku dari sudut pandangmu
Katakan saja apapun tentangku semaumu
Entah itu nyata atau rekaanmu semata
Dengan lantang atau sekedar desahan yang hanya terdengar ditelingamu
Tenang saja, aku tidak perlu lakukan hal yang sama
Katamu aku dendam! Kataku tidak ada masalah padamu
Sebab kita memang berbeda maka aku tidak perlu memaksamu menjadi sepertiku
Atau apapun itu yang menurutku pantas untukmu
Santai sajalah, silahkan jalani bagianmu tidak usah ragu karena aku tidak akan menghalangi langkahmu
Jumat, 20 Agustus 2010
Selasa, 13 Juli 2010
Bertahan, Melawan dan Takut
Aku ingin menyerah saja tapi ingat bahwa perjalanan baru akan dimulai
Tidak bisa terus menerus bertahan karena kemenangan hanya bagi yang memberikan perlawanan
Betapa aku pengecut terhadap dunia
Aku dilemahkan kenyamanan yang tiap hari aku keluhkan
Apa yang kau takuti? Sebuah kegagalan?
Seberapa dalam kegagalan mampu membuatmu terperosok?
Bukankah dasarnya lubang masih dapat kau perhitungkan?
Atau gelapnya yang membuatmu buta?
Adakah dindingnya masih dapat kau raba?
Jadi apa alasanmu untuk takut?
Aku takut pada diriku sendiri
Pada keraguan yang semakin hari malah mendominasi
Takut pada kebimbangan yang seringkali menyelinap ke dalam benteng keyakinan dan memprovokasi
Takut pada kecemasan yang berlebihan terhadap masa depan
Takut kalau aku justru melarikan diri dari apa yang harus kuhadapi
Ahh...sudahlah tidak akan ada habisnya kau keluhkan terus
Lakukan saja apa yang jadi bagianmu lalu biarkan selebihnya menjadi kejutan-kejutan yang akan membuatmu semakin merasa hidup
Tidak bisa terus menerus bertahan karena kemenangan hanya bagi yang memberikan perlawanan
Betapa aku pengecut terhadap dunia
Aku dilemahkan kenyamanan yang tiap hari aku keluhkan
Apa yang kau takuti? Sebuah kegagalan?
Seberapa dalam kegagalan mampu membuatmu terperosok?
Bukankah dasarnya lubang masih dapat kau perhitungkan?
Atau gelapnya yang membuatmu buta?
Adakah dindingnya masih dapat kau raba?
Jadi apa alasanmu untuk takut?
Aku takut pada diriku sendiri
Pada keraguan yang semakin hari malah mendominasi
Takut pada kebimbangan yang seringkali menyelinap ke dalam benteng keyakinan dan memprovokasi
Takut pada kecemasan yang berlebihan terhadap masa depan
Takut kalau aku justru melarikan diri dari apa yang harus kuhadapi
Ahh...sudahlah tidak akan ada habisnya kau keluhkan terus
Lakukan saja apa yang jadi bagianmu lalu biarkan selebihnya menjadi kejutan-kejutan yang akan membuatmu semakin merasa hidup
Selasa, 27 April 2010
Bosan, bolehkan?
Bosan...bolehkah?
Aku rasa boleh kenapa tidak? Bukankah manusiawi merasa bosan?
Tapi kenapa ada embel-embel rasa bersalah diantara rasa bosan?
Jika bosan dengan pasangan, pekerjaan, kehidupan,...masih bolehkah?
"Itu namanya tidak bersyukur!" Ah masa seh?
Memang apa yang membuat rasa bosan berarti tidak bersyukur?
Yah karena manusia pada dasarnya lebih senang berkeluh kesah ketika bosan
Hingga lebih baik membatasi rasa bosan itu dan mulai menghargai yang dimiliki sekarang
Tapi ketika kebosanan menjadi alasan untuk bergerak keluar dari kenyamanan
Atau ketika kebosanan menumbuhkan keberanian untuk memilih maju meski tertatih
Dan ketika kebosanan memupuk kekuatan untuk melawan rasa takut yang disertai kemalasan
Berubah bukan berarti tidak bersyukur kan?
Jadi seharusnya tidak apa-apa merasa bosan kalau itu membuat perubahan yang lebih baik dalam hidup
Baiklah, aku akan mencoba belajar mengatasi kebosanan tanpa keluhan
"Bagus, aku juga sudah bosan dengar keluhanmu!" Sela Nurani
Aku rasa boleh kenapa tidak? Bukankah manusiawi merasa bosan?
Tapi kenapa ada embel-embel rasa bersalah diantara rasa bosan?
Jika bosan dengan pasangan, pekerjaan, kehidupan,...masih bolehkah?
"Itu namanya tidak bersyukur!" Ah masa seh?
Memang apa yang membuat rasa bosan berarti tidak bersyukur?
Yah karena manusia pada dasarnya lebih senang berkeluh kesah ketika bosan
Hingga lebih baik membatasi rasa bosan itu dan mulai menghargai yang dimiliki sekarang
Tapi ketika kebosanan menjadi alasan untuk bergerak keluar dari kenyamanan
Atau ketika kebosanan menumbuhkan keberanian untuk memilih maju meski tertatih
Dan ketika kebosanan memupuk kekuatan untuk melawan rasa takut yang disertai kemalasan
Berubah bukan berarti tidak bersyukur kan?
Jadi seharusnya tidak apa-apa merasa bosan kalau itu membuat perubahan yang lebih baik dalam hidup
Baiklah, aku akan mencoba belajar mengatasi kebosanan tanpa keluhan
"Bagus, aku juga sudah bosan dengar keluhanmu!" Sela Nurani
Selasa, 30 Maret 2010
Pertanyaan Untuk Diri
Siapakah aku? Kerap kali pertanyaan sederhana itu tak terjawab
Bersembunyi dibalik senyum kepura-puraan yang semakin terasa nyata
Bergerak mengikuti arus yang mengalir ditengah-tengah kejenuhan yang menekan pembuluh darah dan mulai menghambat aliran kebebasan
Hingga keinginan pun menjadi tabu ketika membuatmu sanggup bermimpi, karena mimpi adalah kekuatan yang tidak mudah dikendalikan
Ia akan bergerak liar, menukik tajam atau melayang tenang menerobos setiap jalur yang membatas mengikuti naluri
Naluri yang memberontak membuahkan mimpi-mimpi yang melesatkan keinginan untuk bebas dari ketakutan menjadi diri sendiri
Butuh keyakinan untuk mantap menapak menentang arah
Harus dengan keberanian melawan kenyamanan dan memilih jalan yang penuh kecemasan serta ketidak pastian
Menyongsong terjangan badai kebencian dan segudang tekanan dengan wajah asli yang hanya terpahatkan ketegaran
Jadi, siapakah aku?
Jika memilih berdiam dibarisan paling belakang diantara bayang-bayang kenyamanan berkawan dengan ketakutan
Maka, aku bukan siapa-siapa...
Bersembunyi dibalik senyum kepura-puraan yang semakin terasa nyata
Bergerak mengikuti arus yang mengalir ditengah-tengah kejenuhan yang menekan pembuluh darah dan mulai menghambat aliran kebebasan
Hingga keinginan pun menjadi tabu ketika membuatmu sanggup bermimpi, karena mimpi adalah kekuatan yang tidak mudah dikendalikan
Ia akan bergerak liar, menukik tajam atau melayang tenang menerobos setiap jalur yang membatas mengikuti naluri
Naluri yang memberontak membuahkan mimpi-mimpi yang melesatkan keinginan untuk bebas dari ketakutan menjadi diri sendiri
Butuh keyakinan untuk mantap menapak menentang arah
Harus dengan keberanian melawan kenyamanan dan memilih jalan yang penuh kecemasan serta ketidak pastian
Menyongsong terjangan badai kebencian dan segudang tekanan dengan wajah asli yang hanya terpahatkan ketegaran
Jadi, siapakah aku?
Jika memilih berdiam dibarisan paling belakang diantara bayang-bayang kenyamanan berkawan dengan ketakutan
Maka, aku bukan siapa-siapa...
Selasa, 26 Januari 2010
Aku, Kau dan Dia
Hei, kamu...Ya, kamu!
Yang telah memperdengarkan dengan paksa telingaku lagu itu
Lagu yang segera saja mengkontaminasi perasaanku hingga bernafsu merampok lagu-lagu sang dewi lainnya (ya, ya, membajak itu sama dengan penjahat. Kau sudah teriakan itu padaku)
Lagu itu pula yang kau persembahkan untuknya
Ya, betul dia...!
Dia yang mengantungi sebagian besar hatimu (karena kau harus membagi hatimu untuk yang lain juga sayang)
Dia yang entah dengan sengaja atau tidak telah kau suguhkan padaku dan mengambil bagian dari sedikit waktuku
Bagian yang pada akhirnya kau sangsikan keabsahannya
Hei, kamu...Ya, kamu!
Yang membangkitkan sepercik rasa kagum akan sesuatu pada dirimu dipertemuan perdana kita setelah sekian waktu berlalu
Sesuatu yang tidak bisa aku kisahkan kecuali lewat goresan pendek kata-kata yang ku sisipkan untukmu
Kata-kata yang juga sempat menguarkan aroma curiga menelusup diantara kau dan dia
Merayu bukanlah keahlianku...kalau tidak, simpanan kekasihku pasti sudah memenuhi saku
Sesungguhnya itu yang aku lihat didirimu, sesuatu yang mungkin kau kira hanyalah permainan kata-kata dariku
Dia, benar dia!
Karena apa aku dan dia bisa bersua, kurasa kalian berdua tahu adanya
Sampai aku dan dia sepakat dalam kata, sepaham dengan logika dan bertahan digaris batasan masing-masing privasi
Jangan khawatirkan kebersamaan ini, ikatan karib aku dan dia masih butuh berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun kemudian untuk lulus uji
Berjalan, berlari, terjatuh dan bangkit kembali
Kau dan Dia, kalian berdua!
Yang berhasil dengan gemilang mengacaukan logikaku, mempertanyakan kembali prinsipku
Membawaku galau diperbatasan salah dan benar, baik dan buruk, setia dan ingkar
Ya, aku memang tidak merestui apa yang kalian bina...
Aku merestui kebahagiaan kau dan dia, apapun itu
Pesan untukmu...Kau yang sedang merangkai kembali hati yang porak-poranda karenanya, kuharap kau temukan kembali apa yang hilang dan sedang kau cari. Bahagiamu, hanya kau yang tahu, bukan aku, bukan juga dia
Pesan untuknya...Dia yang terpuruk dan memungut satu demi satu serpihan-serpihan hati, kalut dalam kesendirian menggapai-gapai sesuatu untuk digenggam. Bertahanlah, walau hanya sebatas ini mampuku untuk meraihnya, bersabar kawan...bersabarlah
Pesan untukku...Minum segera obat sakit kepala dan lekas tidur, jangan meracau terus
Yang telah memperdengarkan dengan paksa telingaku lagu itu
Lagu yang segera saja mengkontaminasi perasaanku hingga bernafsu merampok lagu-lagu sang dewi lainnya (ya, ya, membajak itu sama dengan penjahat. Kau sudah teriakan itu padaku)
Lagu itu pula yang kau persembahkan untuknya
Ya, betul dia...!
Dia yang mengantungi sebagian besar hatimu (karena kau harus membagi hatimu untuk yang lain juga sayang)
Dia yang entah dengan sengaja atau tidak telah kau suguhkan padaku dan mengambil bagian dari sedikit waktuku
Bagian yang pada akhirnya kau sangsikan keabsahannya
Hei, kamu...Ya, kamu!
Yang membangkitkan sepercik rasa kagum akan sesuatu pada dirimu dipertemuan perdana kita setelah sekian waktu berlalu
Sesuatu yang tidak bisa aku kisahkan kecuali lewat goresan pendek kata-kata yang ku sisipkan untukmu
Kata-kata yang juga sempat menguarkan aroma curiga menelusup diantara kau dan dia
Merayu bukanlah keahlianku...kalau tidak, simpanan kekasihku pasti sudah memenuhi saku
Sesungguhnya itu yang aku lihat didirimu, sesuatu yang mungkin kau kira hanyalah permainan kata-kata dariku
Dia, benar dia!
Karena apa aku dan dia bisa bersua, kurasa kalian berdua tahu adanya
Sampai aku dan dia sepakat dalam kata, sepaham dengan logika dan bertahan digaris batasan masing-masing privasi
Jangan khawatirkan kebersamaan ini, ikatan karib aku dan dia masih butuh berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun kemudian untuk lulus uji
Berjalan, berlari, terjatuh dan bangkit kembali
Kau dan Dia, kalian berdua!
Yang berhasil dengan gemilang mengacaukan logikaku, mempertanyakan kembali prinsipku
Membawaku galau diperbatasan salah dan benar, baik dan buruk, setia dan ingkar
Ya, aku memang tidak merestui apa yang kalian bina...
Aku merestui kebahagiaan kau dan dia, apapun itu
Pesan untukmu...Kau yang sedang merangkai kembali hati yang porak-poranda karenanya, kuharap kau temukan kembali apa yang hilang dan sedang kau cari. Bahagiamu, hanya kau yang tahu, bukan aku, bukan juga dia
Pesan untuknya...Dia yang terpuruk dan memungut satu demi satu serpihan-serpihan hati, kalut dalam kesendirian menggapai-gapai sesuatu untuk digenggam. Bertahanlah, walau hanya sebatas ini mampuku untuk meraihnya, bersabar kawan...bersabarlah
Pesan untukku...Minum segera obat sakit kepala dan lekas tidur, jangan meracau terus
Minggu, 24 Januari 2010
Berhenti Jadi Teman
Aku mau berhenti jadi teman...
Semua persyaratan yang dibutuhkan telah aku ajukan
Hasilnya, aku gagal...
Salahku sendiri masih peduli, masih mau mengerti, masih tetap menyayangi
Kalau saja kepedulianku bisa menguap dan tidak meninggalkan jejak
Seandainya saja pengertian yang hampir aku habiskan tidak buru-buru diisi ulang
Coba saja aku bisa memanipulasi hati agar mengganti sayang yang kuberi menjadi benci
Permohonanku ditolak
Karena ternyata semua rasa itu masih membukit memenuhi ladang hati
Yah, mungkin lain waktu akan kucoba lagi untuk berhenti jadi teman
Eh, tapi aku jadi tidak yakin...berhenti tidak ya?!
Berhenti...tidak...berhenti...tidak...
Biarlah kupikirkan saja nanti..."Mari kawan, kita bermain bersama!"
Akan ku kisahkan cerita-cerita lucu yang dapat membuatmu tertawa seperti biasa
Semua persyaratan yang dibutuhkan telah aku ajukan
Hasilnya, aku gagal...
Salahku sendiri masih peduli, masih mau mengerti, masih tetap menyayangi
Kalau saja kepedulianku bisa menguap dan tidak meninggalkan jejak
Seandainya saja pengertian yang hampir aku habiskan tidak buru-buru diisi ulang
Coba saja aku bisa memanipulasi hati agar mengganti sayang yang kuberi menjadi benci
Permohonanku ditolak
Karena ternyata semua rasa itu masih membukit memenuhi ladang hati
Yah, mungkin lain waktu akan kucoba lagi untuk berhenti jadi teman
Eh, tapi aku jadi tidak yakin...berhenti tidak ya?!
Berhenti...tidak...berhenti...tidak...
Biarlah kupikirkan saja nanti..."Mari kawan, kita bermain bersama!"
Akan ku kisahkan cerita-cerita lucu yang dapat membuatmu tertawa seperti biasa
Rabu, 13 Januari 2010
Berharga...
Sahabat bertanya padaku, "Apa yang paling berharga untukmu?"
"Selain mereka yang bertalian darah denganku, tentu saja kau!"
Masihkah kau ragukan itu...?
"Selain mereka yang bertalian darah denganku, tentu saja kau!"
Masihkah kau ragukan itu...?
Minggu, 15 November 2009
Karena Ku Terlalu Angkuh
Apa yang tersisa dari keangkuhan? Kehancuran!
Kalau memang begitu, mengapa masih dibiarkan rasa itu bercokol dengan tenang dihati?
Tak bisa kujawab tanya itu karena angkuhku tak membiarkan aku mengakuinya
Berapa banyak keangkuhan telah memakan korban jiwa...ya, jiwa yang terluka karenanya
Betapa sering nurani terkalahkan oleh keangkuhan yang semakin tak menyisakan ampunan
Manusiakah bila hati telah berubah menjadi karang yang tak bergeming oleh hempasan tangis dan rintihan
Manusiakah ketika pikiran dipenuhi nafsu pembalasan yang tak berkesudahan, mengoyak belas kasih yang murni hanya demi pengakuan atas kekuasaan
Mudahnya terlupa dengan segala keinginan yang telah tercapai
Mudahnya tidak teringat oleh segala kemauan yang sudah terpenuhi
Mudahnya alpa mensyukuri semua doa yang telah dikabulkan-Nya
Tak pernah disadari yang sudah terluka adalah yang paling dikasihi
Tak mampu mengakui bahwa kenyataan akan rapuhnya diri adalah yang sebenarnya dihindari
Tak bisa dipungkiri kesunyian yang akhirnya hadir adalah teman setia
Adakah kau tahu batas akhir dari angkuhmu? Tidak akan pernah!
Berhentilah cukup sampai disini, sebelum kau tersesat dan tenggelam dalam keremangan penyesalan
Berhentilah sekarang selagi nurani masih bisa menemukanmu dan menjemputmu kembali
Kalau memang begitu, mengapa masih dibiarkan rasa itu bercokol dengan tenang dihati?
Tak bisa kujawab tanya itu karena angkuhku tak membiarkan aku mengakuinya
Berapa banyak keangkuhan telah memakan korban jiwa...ya, jiwa yang terluka karenanya
Betapa sering nurani terkalahkan oleh keangkuhan yang semakin tak menyisakan ampunan
Manusiakah bila hati telah berubah menjadi karang yang tak bergeming oleh hempasan tangis dan rintihan
Manusiakah ketika pikiran dipenuhi nafsu pembalasan yang tak berkesudahan, mengoyak belas kasih yang murni hanya demi pengakuan atas kekuasaan
Mudahnya terlupa dengan segala keinginan yang telah tercapai
Mudahnya tidak teringat oleh segala kemauan yang sudah terpenuhi
Mudahnya alpa mensyukuri semua doa yang telah dikabulkan-Nya
Tak pernah disadari yang sudah terluka adalah yang paling dikasihi
Tak mampu mengakui bahwa kenyataan akan rapuhnya diri adalah yang sebenarnya dihindari
Tak bisa dipungkiri kesunyian yang akhirnya hadir adalah teman setia
Adakah kau tahu batas akhir dari angkuhmu? Tidak akan pernah!
Berhentilah cukup sampai disini, sebelum kau tersesat dan tenggelam dalam keremangan penyesalan
Berhentilah sekarang selagi nurani masih bisa menemukanmu dan menjemputmu kembali
Langganan:
Postingan (Atom)