"Sudah kukatakan agar kau tak usah jadi orang baik, tapi kau tak mau dengar ucapanku!" Kemarahan menatapku tajam, "Sekarang kau lihat apa yang kau dapatkan?!" Lanjutnya masih dengan tatapan yang sama.
Astaga, ternyata Kemarahan benar juga.
Padahal aku sudah berusaha, benar-benar berusaha untuk menjadi baik sampai batas yang aku bisa.
Rela, betul-betul rela ketika ku bungkukkan diri agar membuat yang lain merasa lebih terhormat dariku.
Menekan rasa sakit ketepian hati hingga cukup lapang ruang untuk segala pengertian dan dukungan yang ku coba berikan.
Sayang tidak pernah cukup!
Ketulusanku hanya jadi alas kaki yang tidak pantas dihargai.
Perasaanku tak perlu lagi dipertanyakan, anggap saja tak pernah ada.
Tawaran berkawan dengan Kemarahan terlihat sungguh menarik untuk saat ini.
"Jangan begitu, tidak baik menjadi pendendam. Bersabarlah, kau harus mengerti mungkin saja memang kau yang bersalah minta maaf saja." Celetuk Nurani tiba-tiba.
"Tutup mulutmu, aku sudah bosan dengan kebaikan!" Bentakku.
Tertawa lepas ketika Nurani lari terbirit-birit dan mengkerut dipojokan hati.
Selamat atas Kemenangan bagi Kemarahan karena aku telah menyerah.
Berduka atas matinya pertemanan yang dibunuh dengan keji...
Jumat, 05 Februari 2010
Senin, 01 Februari 2010
Membeli Kepercayaan
Ku coba membeli kepercayaan dengan kebaikan
Lumayan berhasil karena tak sulit untuk menerima kebaikan tanpa perlu banyak pertimbangan
Tapi, kebaikan jadi terlalu mudah untuk dimanfaatkan
Kepercayaan hanya sebatas seberapa baik kau bisa dimanfaatkan
Lalu, aku berpaling...
Ku putuskan membeli kepercayaan dengan kejujuran
Ini lebih sulit dari yang aku kira bisa aku dapatkan
Kejujuran jadi seperti badut yang ditertawakan oleh orang dewasa, manusia berpenampilan aneh yang mempertontonkan kebodohannya bukan lagi sosok penghibur yang lucu pemicu tawa anak-anak
Berhati-hati bahkan kejujuran bisa menikam balik kepercayaan
Aku kembali berpaling...
Ku beranikan untuk membeli kepercayaan dengan kebenaran
Langsung kau dapatkan lemparan kata-kata busuk melumuri sekujur tubuh, baunya saja sudah mampu membuatmu meludahi diri sendiri
Kebenaran...siapa juga yang butuhkan itu sekarang
Semua dapat dikondisikan sesuai kebutuhan
Bersiap-siap saja kau malah akan dikhianati kepercayaan
Lekas ku berpaling...
Membeli kepercayaan dengan uang, sadar diri itu hal yang tak bisa kupenuhi
Yah, menerima kenyataan kepercayaan masih merupakan barang mewah untuk orang sepertiku
Lumayan berhasil karena tak sulit untuk menerima kebaikan tanpa perlu banyak pertimbangan
Tapi, kebaikan jadi terlalu mudah untuk dimanfaatkan
Kepercayaan hanya sebatas seberapa baik kau bisa dimanfaatkan
Lalu, aku berpaling...
Ku putuskan membeli kepercayaan dengan kejujuran
Ini lebih sulit dari yang aku kira bisa aku dapatkan
Kejujuran jadi seperti badut yang ditertawakan oleh orang dewasa, manusia berpenampilan aneh yang mempertontonkan kebodohannya bukan lagi sosok penghibur yang lucu pemicu tawa anak-anak
Berhati-hati bahkan kejujuran bisa menikam balik kepercayaan
Aku kembali berpaling...
Ku beranikan untuk membeli kepercayaan dengan kebenaran
Langsung kau dapatkan lemparan kata-kata busuk melumuri sekujur tubuh, baunya saja sudah mampu membuatmu meludahi diri sendiri
Kebenaran...siapa juga yang butuhkan itu sekarang
Semua dapat dikondisikan sesuai kebutuhan
Bersiap-siap saja kau malah akan dikhianati kepercayaan
Lekas ku berpaling...
Membeli kepercayaan dengan uang, sadar diri itu hal yang tak bisa kupenuhi
Yah, menerima kenyataan kepercayaan masih merupakan barang mewah untuk orang sepertiku
Selasa, 26 Januari 2010
Aku, Kau dan Dia
Hei, kamu...Ya, kamu!
Yang telah memperdengarkan dengan paksa telingaku lagu itu
Lagu yang segera saja mengkontaminasi perasaanku hingga bernafsu merampok lagu-lagu sang dewi lainnya (ya, ya, membajak itu sama dengan penjahat. Kau sudah teriakan itu padaku)
Lagu itu pula yang kau persembahkan untuknya
Ya, betul dia...!
Dia yang mengantungi sebagian besar hatimu (karena kau harus membagi hatimu untuk yang lain juga sayang)
Dia yang entah dengan sengaja atau tidak telah kau suguhkan padaku dan mengambil bagian dari sedikit waktuku
Bagian yang pada akhirnya kau sangsikan keabsahannya
Hei, kamu...Ya, kamu!
Yang membangkitkan sepercik rasa kagum akan sesuatu pada dirimu dipertemuan perdana kita setelah sekian waktu berlalu
Sesuatu yang tidak bisa aku kisahkan kecuali lewat goresan pendek kata-kata yang ku sisipkan untukmu
Kata-kata yang juga sempat menguarkan aroma curiga menelusup diantara kau dan dia
Merayu bukanlah keahlianku...kalau tidak, simpanan kekasihku pasti sudah memenuhi saku
Sesungguhnya itu yang aku lihat didirimu, sesuatu yang mungkin kau kira hanyalah permainan kata-kata dariku
Dia, benar dia!
Karena apa aku dan dia bisa bersua, kurasa kalian berdua tahu adanya
Sampai aku dan dia sepakat dalam kata, sepaham dengan logika dan bertahan digaris batasan masing-masing privasi
Jangan khawatirkan kebersamaan ini, ikatan karib aku dan dia masih butuh berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun kemudian untuk lulus uji
Berjalan, berlari, terjatuh dan bangkit kembali
Kau dan Dia, kalian berdua!
Yang berhasil dengan gemilang mengacaukan logikaku, mempertanyakan kembali prinsipku
Membawaku galau diperbatasan salah dan benar, baik dan buruk, setia dan ingkar
Ya, aku memang tidak merestui apa yang kalian bina...
Aku merestui kebahagiaan kau dan dia, apapun itu
Pesan untukmu...Kau yang sedang merangkai kembali hati yang porak-poranda karenanya, kuharap kau temukan kembali apa yang hilang dan sedang kau cari. Bahagiamu, hanya kau yang tahu, bukan aku, bukan juga dia
Pesan untuknya...Dia yang terpuruk dan memungut satu demi satu serpihan-serpihan hati, kalut dalam kesendirian menggapai-gapai sesuatu untuk digenggam. Bertahanlah, walau hanya sebatas ini mampuku untuk meraihnya, bersabar kawan...bersabarlah
Pesan untukku...Minum segera obat sakit kepala dan lekas tidur, jangan meracau terus
Yang telah memperdengarkan dengan paksa telingaku lagu itu
Lagu yang segera saja mengkontaminasi perasaanku hingga bernafsu merampok lagu-lagu sang dewi lainnya (ya, ya, membajak itu sama dengan penjahat. Kau sudah teriakan itu padaku)
Lagu itu pula yang kau persembahkan untuknya
Ya, betul dia...!
Dia yang mengantungi sebagian besar hatimu (karena kau harus membagi hatimu untuk yang lain juga sayang)
Dia yang entah dengan sengaja atau tidak telah kau suguhkan padaku dan mengambil bagian dari sedikit waktuku
Bagian yang pada akhirnya kau sangsikan keabsahannya
Hei, kamu...Ya, kamu!
Yang membangkitkan sepercik rasa kagum akan sesuatu pada dirimu dipertemuan perdana kita setelah sekian waktu berlalu
Sesuatu yang tidak bisa aku kisahkan kecuali lewat goresan pendek kata-kata yang ku sisipkan untukmu
Kata-kata yang juga sempat menguarkan aroma curiga menelusup diantara kau dan dia
Merayu bukanlah keahlianku...kalau tidak, simpanan kekasihku pasti sudah memenuhi saku
Sesungguhnya itu yang aku lihat didirimu, sesuatu yang mungkin kau kira hanyalah permainan kata-kata dariku
Dia, benar dia!
Karena apa aku dan dia bisa bersua, kurasa kalian berdua tahu adanya
Sampai aku dan dia sepakat dalam kata, sepaham dengan logika dan bertahan digaris batasan masing-masing privasi
Jangan khawatirkan kebersamaan ini, ikatan karib aku dan dia masih butuh berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun kemudian untuk lulus uji
Berjalan, berlari, terjatuh dan bangkit kembali
Kau dan Dia, kalian berdua!
Yang berhasil dengan gemilang mengacaukan logikaku, mempertanyakan kembali prinsipku
Membawaku galau diperbatasan salah dan benar, baik dan buruk, setia dan ingkar
Ya, aku memang tidak merestui apa yang kalian bina...
Aku merestui kebahagiaan kau dan dia, apapun itu
Pesan untukmu...Kau yang sedang merangkai kembali hati yang porak-poranda karenanya, kuharap kau temukan kembali apa yang hilang dan sedang kau cari. Bahagiamu, hanya kau yang tahu, bukan aku, bukan juga dia
Pesan untuknya...Dia yang terpuruk dan memungut satu demi satu serpihan-serpihan hati, kalut dalam kesendirian menggapai-gapai sesuatu untuk digenggam. Bertahanlah, walau hanya sebatas ini mampuku untuk meraihnya, bersabar kawan...bersabarlah
Pesan untukku...Minum segera obat sakit kepala dan lekas tidur, jangan meracau terus
Minggu, 24 Januari 2010
Berhenti Jadi Teman
Aku mau berhenti jadi teman...
Semua persyaratan yang dibutuhkan telah aku ajukan
Hasilnya, aku gagal...
Salahku sendiri masih peduli, masih mau mengerti, masih tetap menyayangi
Kalau saja kepedulianku bisa menguap dan tidak meninggalkan jejak
Seandainya saja pengertian yang hampir aku habiskan tidak buru-buru diisi ulang
Coba saja aku bisa memanipulasi hati agar mengganti sayang yang kuberi menjadi benci
Permohonanku ditolak
Karena ternyata semua rasa itu masih membukit memenuhi ladang hati
Yah, mungkin lain waktu akan kucoba lagi untuk berhenti jadi teman
Eh, tapi aku jadi tidak yakin...berhenti tidak ya?!
Berhenti...tidak...berhenti...tidak...
Biarlah kupikirkan saja nanti..."Mari kawan, kita bermain bersama!"
Akan ku kisahkan cerita-cerita lucu yang dapat membuatmu tertawa seperti biasa
Semua persyaratan yang dibutuhkan telah aku ajukan
Hasilnya, aku gagal...
Salahku sendiri masih peduli, masih mau mengerti, masih tetap menyayangi
Kalau saja kepedulianku bisa menguap dan tidak meninggalkan jejak
Seandainya saja pengertian yang hampir aku habiskan tidak buru-buru diisi ulang
Coba saja aku bisa memanipulasi hati agar mengganti sayang yang kuberi menjadi benci
Permohonanku ditolak
Karena ternyata semua rasa itu masih membukit memenuhi ladang hati
Yah, mungkin lain waktu akan kucoba lagi untuk berhenti jadi teman
Eh, tapi aku jadi tidak yakin...berhenti tidak ya?!
Berhenti...tidak...berhenti...tidak...
Biarlah kupikirkan saja nanti..."Mari kawan, kita bermain bersama!"
Akan ku kisahkan cerita-cerita lucu yang dapat membuatmu tertawa seperti biasa
Rabu, 13 Januari 2010
Berharga...
Sahabat bertanya padaku, "Apa yang paling berharga untukmu?"
"Selain mereka yang bertalian darah denganku, tentu saja kau!"
Masihkah kau ragukan itu...?
"Selain mereka yang bertalian darah denganku, tentu saja kau!"
Masihkah kau ragukan itu...?
Jumat, 08 Januari 2010
Aku dan Waktu
Bertatapan dengan Waktu yang berwajah bengis disatu permulaan hari.
"Jadi kau akan mengejarku?" Tanyanya tersenyum sinis, "Aku tidak akan berhenti dan menunggumu, kau tahu?!".
"Seperti yang terjadi kemarin, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun-tahun yang lalu. Kau akan tertinggal jauh dariku sampai kau harus menangis, merengek bahkan mengiba agar aku berhenti berlari sehingga kau dapat mendekatiku dengan kaki-kaki lemahmu itu." Katanya lagi, sedingin angin laut yang memburu dicelah-celah pepohonan. Menusuk pori-pori dan menggigilkan tulang-belulang tubuhku.
"Ah sudahlah tak perlu banyak bicara, segera saja kau berlari!" Jawabku, "Kalaupun aku tak bisa menyaingi derap langkahmu aku tetap akan menguntit tepat dibalik punggungmu, hingga kau muak dan berhenti menoleh!". Sebab kali ini aku telah siap.
"Jadi kau akan mengejarku?" Tanyanya tersenyum sinis, "Aku tidak akan berhenti dan menunggumu, kau tahu?!".
"Seperti yang terjadi kemarin, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun-tahun yang lalu. Kau akan tertinggal jauh dariku sampai kau harus menangis, merengek bahkan mengiba agar aku berhenti berlari sehingga kau dapat mendekatiku dengan kaki-kaki lemahmu itu." Katanya lagi, sedingin angin laut yang memburu dicelah-celah pepohonan. Menusuk pori-pori dan menggigilkan tulang-belulang tubuhku.
"Ah sudahlah tak perlu banyak bicara, segera saja kau berlari!" Jawabku, "Kalaupun aku tak bisa menyaingi derap langkahmu aku tetap akan menguntit tepat dibalik punggungmu, hingga kau muak dan berhenti menoleh!". Sebab kali ini aku telah siap.
Selasa, 22 Desember 2009
Ajari Aku Berteman
Ku pikir, aku adalah teman yang baik
Ku rasa, aku adalah teman yang menyenangkan
Aku juga teman yang pengertian
Hey, coba dengar ketika kawan ungkapkan kegalauannya tentangmu
Kau tak sebaik yang kau pikir, bukan?
Tidak cukup menyenangkan juga seperti yang kau rasakan
Pengertian?! Jangan bercanda, sebaiknya lihat diri baik-baik
Hhmm....selama ini terlalu percaya diri rupanya
Sudah tak perlu mengingat-ingat kebaikan yang kau berikan
Nyatanya lupa dengan kebaikan yang telah kau terima, masih saja merasa lebih baik dari kawanmu itu
Lupakan saja soal pengertian yang kau anggap sudah maksimal
Buktinya tidak mengerti juga saat kawanmu merasa tersisih dan tak dihargai, tidak perlu berkilah akui saja memang begitu adanya
Karena itu kawan, tolong ingatkan aku jika hati mulai menilai diri ini terlalu tinggi
Sebab aku tidak berniat menjadi teman yang sempurna bagimu, cukup menjadi seorang yang bisa menemani kala kau merasa sendiri
Bila kau tidak cukup aku mengerti, berikan saja pengertianmu padaku dan bersabarlah karena aku masih akan terus belajar untuk itu
Ajari aku terus kawan, dengan begitu kau membantuku menjadi teman yang lebih baik dimasa depan...Semoga!
Ku rasa, aku adalah teman yang menyenangkan
Aku juga teman yang pengertian
Hey, coba dengar ketika kawan ungkapkan kegalauannya tentangmu
Kau tak sebaik yang kau pikir, bukan?
Tidak cukup menyenangkan juga seperti yang kau rasakan
Pengertian?! Jangan bercanda, sebaiknya lihat diri baik-baik
Hhmm....selama ini terlalu percaya diri rupanya
Sudah tak perlu mengingat-ingat kebaikan yang kau berikan
Nyatanya lupa dengan kebaikan yang telah kau terima, masih saja merasa lebih baik dari kawanmu itu
Lupakan saja soal pengertian yang kau anggap sudah maksimal
Buktinya tidak mengerti juga saat kawanmu merasa tersisih dan tak dihargai, tidak perlu berkilah akui saja memang begitu adanya
Karena itu kawan, tolong ingatkan aku jika hati mulai menilai diri ini terlalu tinggi
Sebab aku tidak berniat menjadi teman yang sempurna bagimu, cukup menjadi seorang yang bisa menemani kala kau merasa sendiri
Bila kau tidak cukup aku mengerti, berikan saja pengertianmu padaku dan bersabarlah karena aku masih akan terus belajar untuk itu
Ajari aku terus kawan, dengan begitu kau membantuku menjadi teman yang lebih baik dimasa depan...Semoga!
Langganan:
Postingan (Atom)