Beginilah jadinya kalau hatimu berbicara lebih dari yang seharusnya
Jadi akan kau apakan ia?
Menyumpalnya rapat-rapat, hingga berbisikpun tak dapat?
Tapi hatimu tidak berbicara dengan dengan mulut yang terbuka
Ia berbicara lewat getaran-getaran yang mendesirkan nadi-nadi dan mendesak aliran darah
Membuat akalmu tak kuasa memberikan perintah
Apa yang bisa kau lakukan ketika perasaan sudah berkenan?
Aku tahu betapa sulitnya kau mengeluarkan segala daya untuk coba mengaturnya
Seakan setiap sendi-sendi bersumpah setia untuk menolak
Dan kau memikirkan untuk pasrah melawan semua inginnya
Melepaskan hatimu melakukan kehendaknya
Puaskah ia?...Tidak kawan, karena perasaan tidak pernah mampu berikan batasan
Minggu, 30 Oktober 2011
Sabtu, 01 Oktober 2011
Hadiah Untukku
Hari yang tepat untuk memulai sesuatu yang baru
Waktu yang tepat untuk menantang diri
Ketika kerabat dan handai taulan memberikan selamat serta mendoakan umur yang panjang
Aku memberi selamat pada diriku sendiri dengan menghadiahkan kesempatan...
Kesempatan untuk menemukan kembali keberanian sebelum terlanjur terkubur terlalu dalam
Sebelum pikiran dipenuhi terlalu banyak pertanyaan tanpa jawaban
Sebelum tubuh terlalu cepat kelelahan
Dan sebelum semuanya berhenti tanpa sempat lakukan apa-apa
Waktu yang tepat untuk menantang diri
Ketika kerabat dan handai taulan memberikan selamat serta mendoakan umur yang panjang
Aku memberi selamat pada diriku sendiri dengan menghadiahkan kesempatan...
Kesempatan untuk menemukan kembali keberanian sebelum terlanjur terkubur terlalu dalam
Sebelum pikiran dipenuhi terlalu banyak pertanyaan tanpa jawaban
Sebelum tubuh terlalu cepat kelelahan
Dan sebelum semuanya berhenti tanpa sempat lakukan apa-apa
Senin, 05 September 2011
Berusaha!
Ternyata aku ini lemah justru terhadap diri sendiri
Apa yang aku butuhkan sering kali tersamar dengan keinginan
Dan itu masih harus diperumit dengan tidak tahu apa yang aku inginkan
Aku ini pemimpi....bahkan tidak perlu tertidur untuk itu
Ini membuat kenyataan jadi sesuatu yang bisa menyakiti
Dan aku sibuk mengumpulkan ketakutan untuk dijadikan alasan berlindung dalam mimpi
Seharusnya tidak ada yang salah dengan impian
Hanya saja ketika itu jadi sandaran hidup, aku gamang, kalut, bimbang, takut...
Karena mimpi selalu lebih menarik sebelum ia terwujud
Tidak bisa mengandalkan orang lain untuk merubahku
Lakukan sendiri, jadilah berani
Sudah saatnya memberi sanksi pada hati yang kelewat ikut campur urusan hidup
Mulai menempatkan logika untuk dapat porsi yang sama
Jangan cengeng! Dunia sudah muak dengan itu
Lelah mengasihani diri, cukup minta dimengerti, berhenti dipermainkan perasaan
Aku harus segera selesaikan
Masalah yang ku timbulkan, ketakutan yang ku buat sendiri, dan galau yang ku biarkan menjadi besar
Aku masih harus belajar bermimpi dengan benar, mimpi yang membangunkanku pada kenyataan bukan yang membuatku hidup didalamnya
Apa yang aku butuhkan sering kali tersamar dengan keinginan
Dan itu masih harus diperumit dengan tidak tahu apa yang aku inginkan
Aku ini pemimpi....bahkan tidak perlu tertidur untuk itu
Ini membuat kenyataan jadi sesuatu yang bisa menyakiti
Dan aku sibuk mengumpulkan ketakutan untuk dijadikan alasan berlindung dalam mimpi
Seharusnya tidak ada yang salah dengan impian
Hanya saja ketika itu jadi sandaran hidup, aku gamang, kalut, bimbang, takut...
Karena mimpi selalu lebih menarik sebelum ia terwujud
Tidak bisa mengandalkan orang lain untuk merubahku
Lakukan sendiri, jadilah berani
Sudah saatnya memberi sanksi pada hati yang kelewat ikut campur urusan hidup
Mulai menempatkan logika untuk dapat porsi yang sama
Jangan cengeng! Dunia sudah muak dengan itu
Lelah mengasihani diri, cukup minta dimengerti, berhenti dipermainkan perasaan
Aku harus segera selesaikan
Masalah yang ku timbulkan, ketakutan yang ku buat sendiri, dan galau yang ku biarkan menjadi besar
Aku masih harus belajar bermimpi dengan benar, mimpi yang membangunkanku pada kenyataan bukan yang membuatku hidup didalamnya
Jumat, 22 Juli 2011
Beralih dan Tak Percaya
Adakah percaya padamu masih mampu menghalau nafas kebencian?
Sengaja mungkin memang kau biarkan agar jadi sedikit hiburan
Nafas-nafas panas yang semakin cepat menghela dan menghembus, berulang-ulang
Kemudian memenuhi setiap ruang-ruang hati yang dahulu begitu lapang menjadi sempit, menjemukan
Sudah puaskah kau tertawa?
Karena nafas kebencian sudah mengambil alih paru-paru dan melelahkan
Ruang hati yang sesak, mengusir keluar ketenangan, perlahan namun tak tertahan
Akan kau apakan ketika tak ada lagi ketenangan, keramahan, perkawanan?
Bersenang-senang tidak semudah itu mengembalikan kebaikan
Rasa sudah membisu, menolak untuk sekedar mengaduh
Cukupkah tenagamu memecah kepala-kepala yang membatu hanya dengan setengah kepalan tanganmu?
Sedang setengah lagi dibiarkan terbuka enggan kau katup
Apa yang kau rencanakan?
Lihat nanti sampai permainan tidak lagi kau menangkan
Langkah-langkah yang terjebak, mundur untuk mengelak, satu dua tiga hitungan lantas mati
Kau akan tertinggal dan tersadar, kau tidak pernah jadi pemilik kantung nasib
Bagi nasibku, nasib mereka, bahkan nasibmu sendiri...
Sengaja mungkin memang kau biarkan agar jadi sedikit hiburan
Nafas-nafas panas yang semakin cepat menghela dan menghembus, berulang-ulang
Kemudian memenuhi setiap ruang-ruang hati yang dahulu begitu lapang menjadi sempit, menjemukan
Sudah puaskah kau tertawa?
Karena nafas kebencian sudah mengambil alih paru-paru dan melelahkan
Ruang hati yang sesak, mengusir keluar ketenangan, perlahan namun tak tertahan
Akan kau apakan ketika tak ada lagi ketenangan, keramahan, perkawanan?
Bersenang-senang tidak semudah itu mengembalikan kebaikan
Rasa sudah membisu, menolak untuk sekedar mengaduh
Cukupkah tenagamu memecah kepala-kepala yang membatu hanya dengan setengah kepalan tanganmu?
Sedang setengah lagi dibiarkan terbuka enggan kau katup
Apa yang kau rencanakan?
Lihat nanti sampai permainan tidak lagi kau menangkan
Langkah-langkah yang terjebak, mundur untuk mengelak, satu dua tiga hitungan lantas mati
Kau akan tertinggal dan tersadar, kau tidak pernah jadi pemilik kantung nasib
Bagi nasibku, nasib mereka, bahkan nasibmu sendiri...
Jumat, 08 Juli 2011
Menahan...
Seharusnya ku maki saja sampai terkuras habis amarah
Tapi aku memilih diam....
Atau ku namai dengan kata-kata hina yang sepertinya lebih layak disematkan
Tapi sekuat tenaga aku membungkam...
Juga lebih baik rasanya jika ku layangkan kepalan tangan membabi-buta
Tapi berkilahpun aku tidak...
Pengecut!
Bukan...aku hanya belajar BERSABAR
Tapi aku memilih diam....
Atau ku namai dengan kata-kata hina yang sepertinya lebih layak disematkan
Tapi sekuat tenaga aku membungkam...
Juga lebih baik rasanya jika ku layangkan kepalan tangan membabi-buta
Tapi berkilahpun aku tidak...
Pengecut!
Bukan...aku hanya belajar BERSABAR
Senin, 23 Mei 2011
Mimpiku Disana
Biarkan aku menjadi milik masa depan yang terhampar tak berjejak
Samar-samar, hanya samar-samar yang terlihat
Itu saja sudah cukup memanaskan harapan untuk tetap bergejolak
Ingin kesana...menuruti kata hati
Meninggalkan semua yang terbangun disini
Bukan karena tidak cukup beharga untuk dimiliki
Tetapi karena mimpiku bukan berujung ditempat ini
Samar-samar, hanya samar-samar yang terlihat
Itu saja sudah cukup memanaskan harapan untuk tetap bergejolak
Ingin kesana...menuruti kata hati
Meninggalkan semua yang terbangun disini
Bukan karena tidak cukup beharga untuk dimiliki
Tetapi karena mimpiku bukan berujung ditempat ini
Masih Harus Bersabar
Nurani....
Aku telah dikerdilkan oleh nafsu
Nafsu yang telah membuatku terlalu mencemaskan hidup
Aku yang membesarkan rasa takut tanpa kendali
Kemudian ia mulai menggelepar liar dan menerkam keberanian
Beraniku hilang tertelan tak mampu kuselamatkan
Oh Nurani....
Masih mampukah aku bebaskan hati ini dari jeratan benci
Galau yang menggelantung dan menghisap kepastian
Aku tertawa tanpa tahu apa itu bahagia
Menangis tapi tak juga melepaskan lara
Hidupku diatur oleh waktu yang tidak ku miliki
Bahkan menjadi gila masih terlalu sulit untuk dilakukan
Sudah saatnyakah aku menyerah?
Katakan Nurani, dititik manakah aku berhak untuk lelah
Sampaikan padaku Nurani, jika usahaku sudah harus berhenti
Tapi kenapa kau tetap diam dan hanya mengirimkan pesan
Kalau aku belum diijinkan untuk singgah walau sebentar dan bermimpi masih tetap diperbolehkan
Hingga nanti, entah kapan...
Langkahku akan terhenti sendiri
Dan segalanya telah usai aku tunaikan
Tapi itu nanti pesannya...dan entah kapan....
Aku telah dikerdilkan oleh nafsu
Nafsu yang telah membuatku terlalu mencemaskan hidup
Aku yang membesarkan rasa takut tanpa kendali
Kemudian ia mulai menggelepar liar dan menerkam keberanian
Beraniku hilang tertelan tak mampu kuselamatkan
Oh Nurani....
Masih mampukah aku bebaskan hati ini dari jeratan benci
Galau yang menggelantung dan menghisap kepastian
Aku tertawa tanpa tahu apa itu bahagia
Menangis tapi tak juga melepaskan lara
Hidupku diatur oleh waktu yang tidak ku miliki
Bahkan menjadi gila masih terlalu sulit untuk dilakukan
Sudah saatnyakah aku menyerah?
Katakan Nurani, dititik manakah aku berhak untuk lelah
Sampaikan padaku Nurani, jika usahaku sudah harus berhenti
Tapi kenapa kau tetap diam dan hanya mengirimkan pesan
Kalau aku belum diijinkan untuk singgah walau sebentar dan bermimpi masih tetap diperbolehkan
Hingga nanti, entah kapan...
Langkahku akan terhenti sendiri
Dan segalanya telah usai aku tunaikan
Tapi itu nanti pesannya...dan entah kapan....
Langganan:
Postingan (Atom)